Senin, 26 September 2011

Humanistic Studies


         Humanistic Studies, mata kuliah ini sedikit membuat saya penasaran dan menerka-nerka. Berasal dari kata Humanistic dan Studies, menurut pemahaman saya Humanistic berbicara tentang kepercayaan seseorang terhadap suatu agama atau membahas tentang kehidupan sosial manusia. Sedangkan Studies ialah proses pembelajaran terhadap suatu subjek untuk menambah pengetahuan kita.
Pada pertemuan pertama dijelaskan bahwa mata kuliah ini membahas tentang kehidupan beragama, suku dan budaya di Indonesia. Bapak Hatim Gazali selaku dosen mata kuliah Humanistic Studies menambahkan bahwa materi pada subjek ini berbeda dengan tahun lalu, kali ini akan membahas lebih dalam tentang agama. Ketika mendengar hal itu saya sempat berpikir agama adalah suatu hal yang sensitif dan itu menyangkut kepercayaan seseorang. Akankah materi mata kuliah ini disajikan dengan sebuah penyampaian yang netral dan tetap menghargai sesama tanpa menyinggung satu sama lain? Pertanyaan itu masih menjadi teka-teki yang belum terjawab karena kita baru melakukan satu kali pertemuan. Ekspektasi saya adalah pembahasan tentang agama ini akan dikemas dengan pembawaan yang netral, tidak berat sebelah. Selain itu saya juga berharap dengan mata kuliah ini dapat mengenal lebih dalam tentang agama di Indonesia,  lebih menghargai perbedaan kepercayaan, serta dosen dapat mengarahkan kita bagaimana cara memandang perbedaan agama secara netral.
Disamping itu, Humanistic Studies ini mengupas tentang multikultur suku dan budaya yang ada di negri ini. Membahas tentang budaya tidak jauh dari kesenian tradisional dan tradisi-tradisi unik. Saya sangat tertarik dalam dunia seni, khususnya kesenian tradisional. Saya berharap mata kuliah ini akan menyajikan keberagaman kesenian tradisional dengan sebuah video, film, atau mungkin kita dapat mempraktekan langsung salah satu kesenian tersebut. Sejarah suatu suku atau kebudayaan juga sangat menarik perhatian saya dan saya berharap hal tersebut dapat disinggung dalam materi Humanistic Studies.
Dalam sebuah budaya terselip sebuah kesenian tradisional. Ekspektasi lain saya sebagai kandidat guru Indonesia adalah saya dapat mengaplikasikan kesenian tradisional dalam bidang pendidikan, lalu mengkombinasikan kesenian tradisional tersebut dengan sentuhan sebuah teknologi untuk menyampaikan sebuah informasi atau pengajaran.
            Sebuah tempat saya bernaung untuk menimba ilmu ini menghadirkan berbagai kalangan pelajar yang berasal dari berbagai tempat yang tersebar di Indonesia yang memiliki latar belakang yang beragam. Perbedaan agama, budaya, dan tradisi tersebut mewarnai kehidupan sosial kita. Seperti warna, ia memiliki keindahan dan karakternya masing-masing, ia juga memiliki makna yang berbeda. Ibarat pelangi yang terdiri dari berbagai warna, mereka bergandengan tangan dengan damai memancarkan karakternya masing masing dengan satuan keindahan. Sama seperti perbedaan, jika kita mampu menghormati dan menghargai suatu perbedaan maka keindahan pun akan lahir dari sebuah perbedaan. Begitu juga dengan Tuhan yang menciptakan perbedaan itu sendiri, Tuhan memiliki makna dan tujuan tersendiri, tentunya hal itu baik untuk kehidupan manusia di dunia.
            Sekarang tergantung kita sebagai manusia yang menyikapinya, jika kita tidak dapat menerima sebuah perbedaan maka akan timbul suatu masalah dan konflik dalam kehidupan ini. Namun jika kita dapat hidup dalam suatu perbedaan, maka perbedaan itu akan memancarkan pesona kedamian yang alami.

2 komentar:

Anonim mengatakan...

Menyampaikan secara netral dan tidak menyakiti, salah satu poin yang saya highlight dari esai upit. Apa itu netral? Setiap orang akan menerima apapun yang ada di kelas secara berbeda-beda.
Anyway, it is good essay. writing this essay is easier than writing article, right?
Sampai jumpa

Upit Sofyani mengatakan...

maksudnya penyampaiannya tidak memihak terhadap salah satu agama di Indonesia pak.
Of course because it is a reflective essay hehe

Posting Komentar